Misi Kemanusiaan Pemisahan Anaya dan Inaya, "Terima Kasih Pak Sukiman"

 


Dua tahun lamanya balita kembar siam asal Lombok Timur Anaya dan Inaya menanti jadwal operasi pemisahan. Berbagai kendala muncul, membuat rencana operasi terus tertunda.


Paling mengganggu ya soal pandemi. Kasus Covid-19 yang terus naik turun, ternyata berdampak juga pada jadwal operasi di Surabaya.


Sejak awal, Anaya dan Inaya memang menghadapi serangkaian masalah. Ayahnya hanyalah buruh bangunan. Sedangkan sang ibu, tentu saja harus fokus di rumah, merawat keduanya yang butuh perhatian ekstra. Jangankan untuk biaya operasi, untuk makan saja susah.


Hal inilah yang membuat para relawan tergerak. Bahu membahu memberikan segala kemampuan. Sejumlah dana terkumpul, namun masih sangat jauh untuk bisa menutupi biaya operasi. Paling banter dana itu untuk membantu biaya hidup keseharian Anaya dan Inaya.


Namun di mana ada usaha, di situ pasti ada jalan. Jika tuhan sudah berkehendak, tak ada yang mampu menghalangi. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur pun turun tangan. Dana hingga Rp 1 miliar lebih sesuai kebutuhan disiapkan.


Daerah jugalah mengawal kasus dua balita malang ini hingga tuntas. Bahkan Bupati HM Sukiman Azmy terbang langsung ke Surabaya untuk mengikuti serangkaian proses operasi. Dia yang bertindak sebagai penjamin kedua balita malang itu.


Saat hari H operasi. Ketegangan jelas terpancar di semua pihak yang hadir kala itu. Tim dokter, perwakilan keluarga, utusan Pemkab Lotim, bahkan hingga Bupati Sukiman sekali pun tak bisa menyembunyikan raut wajah tegangnya.


Momen haru juga menyelimuti, karena kedua orang tua balita itu malah sakit bersamaan, beberapa hari jelang operasi. Walhasil, saat kedua anak mereka tengah bertaruh nyawa, kedua orang tuanya justru tak bisa menemani. Hanya doa yang dapat mereka kirim bagi anaknya dari kejauhan.


Seluruh yang hadir di ruang tunggu berusaha saling menguatkan. Meyakinkan diri masing-masing, bahwa ini memanglah suratan yang harus dijalani. Yang terpenting kala itu adalah upaya sepenuh hati yang harus dijalani.


Tim kedokteran yang melakukan operasi sudah bersiap sedari subuh. Kedua bali juga disiapkan menghadapi operasi. Mulai dari dimandikan, hingga dibius. Operasi dimulai pagi begitu matahari terbit. Diperkirakan usai sesaat azan Magrib berkumandang.


Berbagai perasaan menggelayut di benak. Bisakah dua bocah itu bertahan belasan jam? Bagaimana juga perasaan kedua orang tua yang malah tak bisa menemani saat buah hatinya bertaruh nyawa? Apa jadinya jika operasi ini gagal?


Para dokter memang sudah menjelaskan pada para utusan dari Lombok Timur. Ada opsi A, B, dan C. Ada sejumlah skenario terburuk yang mungkin dijalankan selama operasi.


Namun mukjizat tuhan sungguh nyata. Selama operasi, tak terjadi penurunan kondisi dari Anaya dan Inaya. Keduanya sangat kuat. Walhasil, berbagai skema terburuk yang sudah disiapkan tak dilaksanakan. Operasi juga relatif lancar. Bahkan usai dua jam lebih cepat dari perkiraan. Tepatnya pukul 16.02 waktu setempat.


Saat operasi dinyatakan selesai, sontak para penunggu di ruangan layar monitor operasi bersuka cita penuh haru,  ada yang bersujud syukur, ada pula yang berpelukan melepas haru yang tak terbendung.


Misi kemanusiaan ini berhasil. Perlu jalan berliku untuk mencapai puncaknya. Butuh ratusan hari penantian hingga operasi bisa dilaksanakan. Dan kini keduanya tengah menanti lembaran hidup baru.


Mereka tak lagi terikat dalam satu keterbatasan yang sama. Keterbatasan yang sebelumnya membuat keduanya kerap kesusahan. Dulu, ada masanya satu anak ingin makan, dan satu lagi malah ingin buang air. Dulu, ada masanya, satu anak ingin tidur, dan satunya lagi ingin bermain. Kini keduanya bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik.


Setelah pulih, Anaya dan Inaya akan segera pulang ke Lombok Timur. Menata harinya, memulai lembaran baru sebagai keluarga yang lebih bahagia.


Melalui keluarga kecil ini kita banyak belajar akan arti perjuangan. Sang ayah yang tak kenal lelah untuk terus berjuang. Sang ibu yang tak pernah putus harapan mengasuh keduanya. Begitu juga dengan si kembar yang terus bertahan selama ini tanpa pernah menyerah.


Terima kasih padaMu ya Rabb, Terima kasih para pejuang kemanusiaan, terima kasih para dokter di Surabaya, terima kasih Pemerintah Lombok Timur, terima kasih Bupati Sukiman, terima kasih masyarakat NTB, terima kasih orang-orang baik. 

(Muhammad Fahrurrozi, aktivis kemanusiaan)

0 Komentar