Hadiri Haul NW Ke-70, Wapres Ma'ruf Amin Ungkapkan Kegembiraannya

Wapres KH. Ma'ruf Amin didampingi Gubernur NTB DR. Zulkieflimansyah dan Pimpinan Ponpes NW Anjani TGB. Zainuddin Atsani diacara Haul NW ke 70


LOMBOK TIMUR - Kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Prof. Dr. K.H. Ma'ruf Amin hadir pada acara Haul ke-70 Nahdlatul Wathan (NW) yang digelar di Yayasan Pondok Pesantren Syaikh Zainudin NW Anjani, adalah kali pertama pasca Covid -19. 


KH. Ma'ruf Amin mengakui jika pertemuan bersama organisasi keagamaan NW terbesar di NTB ini ditakdirkan Allah SWT.


Dihadapan ribuan jamaah yang hadir memenuhi Auditorium Majlis Dakwah Hamzanwadi II, Wapres mengungkapkan kegembiraannya bisa berhadapan langsung dengan para jamaah yang hadir pada acara tersebut. 


"Pada siang hari ini, saya ditakdirkan Allah dapat hadir pada acara peringatan hari jadi NW ke 70, pada tahun 2022 lalu saya hadir pada peringatan hari jadi ke 69 secara virtual, namun hari ini saya bisa hadir secara langsung ditempat ini," ungkap Ma'ruf Amin, Jumat (17/3). 


Dikatakan Wapres, hal tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga hubungan baik dengan organisasi keagamaan, salah satunya NW.  Karena NW juga berperan sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan nasional.


Peran tersebut dikatakan Wapres terlihat dari semangat pembangunan bangsa Indonesia khususnya di bidang pendidikan  yang tak lepas dari peran dan kehadiran NW. 


"Saya menyampaikan apresiasi pada seluruh jajaran NW yang telah aktif berkiprah pada bidang pendidikan baik itu melalui madrasah yang ada di Indonesia maupun yang tersebar di luar," ujar mantan Ketua MUI itu.


Hal itu juga merupakan semangat sang pendiri yakni Maulana Syaikh TGKH. Zainuddin Abdul Majid yang terus dijaga. 


Mengingat juga, teladan dan kontribusi pahlawan nasional juga telah tercatat lama semenjak NW didirikan pada tahun 1953. 


Maulana Syaikh dikatakan Ma'ruf Amin tidak hanya menjadikan Madrasah sebagai lembaga pendidikan semata, namun juga menjadikan madrasah sebagai matras pergerakan memperjuangkan kemerdekaan, hingga maulana syaikh dinobatkan  sebagai pahlawan nasional dari Lombok Timur. 


NW dikatakannya terus menjunjung islam wasatiyah atau moderat yang nampak dalam alsunnah wal jamaah bernasab imam safii, pergerakan NW berdiri diatas pancasila dan UUD1945. 


"Sejal dulu Maulana Syaikh memang punya satu hajatan besar, dalam rangka menjaga negara, sejak dulu para ulama dan para santri berjuang, sejak sebelum merdeka, begitu juga setelah merdeka, karena itu beliau syaikh maulana diberkahi sebagai pahlawan nasional," tuturnya. 


Lebih lanjut pergerakan yang dijalankan maulana syaikh bisa seperti sekarang tak lepas dari 5 aspek yang terus dia junjung. 


Yakni kata dia, hifz al-din (menjaga agama); hifz al-nafs (menjaga jiwa); hifz al-‘aql (menjaga akal); hifz al-nasl (menjaga keturunan); dan hifz al-mal (menjaga lingkungan). 


Namun lanjutnya, dari 5 aspek yang ada, seiring perkembangannya ada tambahan satu lagi aspek yang tak boleh dilupakan, yakni Hifdzul wathan (menjaga tanah air). 


Pentingnya Hifzul wathan terlahir karena semangat ingin membangun peradaban dan ingin melakukan perbaikan, tentunya semangat itu juga bisa djalanjkan denga  cara berkelanjutan. 


"Perbaikan itu secara berkelanjutan, sustaineble, yang tidak pernah berhenti, karena itu untuk itu memang dibutuhkan SDM yang handal melalui pendidikan, yang di inisiasi oleh NW selama ini," tandas Ma'ruf Amin. (CN)


0 Komentar